Ajak Santri Tebar Kedamaian

PRABUMULIH – Momentum hari santri tahun ini, Kementerian Agama (Kemenag) mengajak santri berpikir moderat. Tak henti-hentinya untuk mengajak dan menebar kedamaian di negeri ini.

“Sesuai pesan Pak Menteri, kita mengajak agar santri selalu berpikir moderat menciptakan kedamaian di Bumi Indonesia ini,” ungkap Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag), Drs H Yeri Taswin MPdI ketika menjadi inspektur upacara di hari santri nasional (HSN) ke-4 yang dipusatkan di Pondok Pesantren Modern (PPM) Al Furqon Desa Jungai, Kecamatan Rambang Kapak Tengah (RKT), kemarin.

Apalagi, kata dia, Menteri Agama (Menag), Lukman Saifuddin sudah menegaskan, kalau santri harus menjadi pioneer dan pelopor menciptakan kedamaian dan keamanan serta kebersamaan di negara ini.

“Santri sendiri dipandang mampu, karena pemahaman ilmu agama dimiliki. Bisa memberikan kesejukan kepada umat, menghindari hal-hal tidak diinginkan. Bukan malah sebaliknya,” pesannya.

Menurutnya, pemahaman agama dimaksud tidak hanya hubungannya dengan sang pencipta. Begitu juga, hubungannya dengan masyarakat. “Santri punya kelebihan, itu harus dimanfaatkan dengan sebaiknya,” bebernya.

Tak lupa, ia mengingatkan, agar para santri bijak menggunakan media sosial (medsos). Sebutnya, apalagi sekarang ini banyak berita bohong (hoax) bertebaran. “Harus diwaspadai dan berhati-hati, jangan terjebak sehingga ikut menjadi penyebarannya,” wantinya.

Ketua Forum Pondok Pesantren (Forpes), KH Mahmudi Basri MPdI mengatakan, sudah ditetapkan Presiden RI, Jokowi setiap 22 Oktober sebagai hari santri nasional (HSN). “Percayalah santri tidak macam-macam, karena pegawasannya sangat ketat oleh para ustadz dan ustadzah. Aman dan terkendali di Ponpes,” ucapnya.

Menurut Mahmudi, santri dan santriwati harus pintar membaca alquran dan menguasai ilmu teknologi guna menunjang prestasinya. “Belajar di pesantren tenang, ada yang mengawal dan memperhatikan. Tidak perlu khawatir,” tandasnya.

Asisten I Pemkot, Drs H Asymuni Hambali MPdI menerangkan, dicanangkan HSN bahwa fakta mengatakan mempuyai peranan penting dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan.

“Di masa penjajahan, santri melakukan revolusi jihad dalam rangka berjuang merebut kemerdekaan,” terangnya.

Kata dia, santri di Ponpes diberikan ilmu alat. Makanya, santri tidak menganggur karena sudah punya bekal dan bisa mandiri untuk menghidupi dirinya sendiri.

“Kalau bekal ilmu agama tidak perlu diragukan. Santri harus dibekali keterampilan atau ilmu alat (skill), supaya mandiri,” pungkasnya.

Bebernya, seorang muslim harus dibekali 4 hal. Yaitu, rumah yang luas, kendaraan yang cepat, mempuyai pelita yang terang, dan mempuyai pakaian yang indah. “Keempat hal itu hanya analogi saja, bukan rumah yang luas. Tetapi, seorang muslim harus lapang dada,” tandasnya. (03)

 

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!